Sejarah Indonesia pun bukanlah sejarah yang berdiri sendiri secara soliter di hamparan sejarah masyarakat dunia. Sejarah Indonesia mengalami perjumpaan-perjumpaan dan berkelindan dengan sejarah berbagai bangsa di dunia. Terlebih dalam dunia akademis, pendekatan yang saat ini dipakai dan diyakini penting dan efektif adalah pendekatan multidisiplin dan interseksional. Multidisiplin merangkul perspektif yang berbeda dari berbagai bidang keilmuan. Sedangkan interseksional memungkinkan kita melihat irisan-irisan dari persoalan yang ada, karena sejarah tidak berada di ruang steril para sejarawan saja. Dengan stigma terhadap kelompok masyarakat tertentu, bagaimana penulisan sejarah yang sedang dilakukan ini dapat kita harapkan? Sejarah ibaratnya adalah pohon. Seperti halnya pohon, pohon tidak memilih mana dahan dan buah yang ia inginkan. Pohon akan merangkul dahan-dahan pertumbuhan dirinya terlepas dia menyukainya atau tidak. Jika penulisan sejarah memilih-milih isu yang diangkat dan berjarak dengan ingatan kolektif masyarakat, bagaimana kira-kira bentuk dokumen sejarah yang dibuat tersebut.












