Oleh karenanya penulisan sejarah semestinya bukan sebagai proyek yang bertarget selesai hanya dalam hitungan bulan dengan interpretasi monopolistik. Seharusnya pun bukan pemerintah yang menjadi pelaksana proyek penulisan sejarah. Biarlah kronik-kronik sejarah itu ditulis oleh masyarakat berdasar ingatan kolektif masyarakat. Ingatan kolektif ini tersebar dan berserak dalam ruang-ruang kehidupan masyararakat, termasuk para aktivis yang kita bahas diatas. Kronik-kronik sejarah ini dapat disusun untuk penulisan sejarah sesuai kaidah-kaidah yang ada, disinilah pemerintah dapat mengambil peran fasilitasi.
Persoalan lain yang terkait, bangsa kita tidak memiliki tradisi untuk membuka suatu polemik. Ini yang mesti mulai dibangun. Misi suci penulisan sejarah adalah agar kita bisa belajar dari sejarah. Sejarah tidak hanya tentang pencapaian dan glorifikasi, sejarah adalah juga tentang luka dan tragedi. Dalam kenyataannya, lebih dari penulisan sejarah itu sendiri, yang lebih mempihatinkan adalah politik sejarahnya. Bagaimana sejarah digunakan untuk mengglorifikasi, melegitimasi, mempahlawankan sesuatu atau seeorang dan sebaliknya mengkerdilkan, mentersangkakan atau menghilangkan kontribusi yang dianggap lawan politiknya.












