
2.Titik Temu Agama: Orientasi pada Tuhan, Bukan Keseragaman Ritual
Ibn ‘Arabi melihat titik temu agama-agama terletak pada fondasi metafisik yang sama: Tuhan sebagai tujuan akhir pencarian religius.Titik temu itu tidak utama berada pada kesamaan ritual, hukum, atau doktrin. Melainkan pada orientasi terdalam agama sebagai jalan menuju Tuhan, penghambaan, dan relasi dengan Yang Transenden.Ia menjelaskannya melalui dialektika tanzīh dan tasybīh. Tuhan melampaui segala bentuk, namun jejak-Nya dapat dikenali melalui nama dan tanda-Nya dalam pengalaman religius manusia.Titik temu juga bersifat epistemologis. Semua manusia sama-sama terbatas dalam memahami Hakikat Ilahi. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati intelektual dan membuka ruang dialog antaragama.













