3.Wahdatul Adyān dalam Perspektif Filsafat Perennial
Dalam kacamata Filsafat Perennial, pemikiran Ibn ‘Arabi bersinggungan pada 3 hal: penolakan realitas empiris sebagai final, adanya hirarki wujud, dan pengakuan Realitas Transenden.Namun ada perbedaan mendasar. Filsafat Perennial cenderung memakai istilah universal seperti The One atau Ultimate Reality. Sementara Ibn ‘Arabi menempatkan Allah dalam horizon tauhid Islam sebagai pusat seluruh struktur metafisik.Dengan demikian, Wahdatul Adyān Ibn ‘Arabi tidak berarti menyamakan seluruh agama secara mutlak. Maknanya: keragaman agama memiliki dasar metafisik yang sama karena seluruh eksistensi bersumber dari Allah.
4.Relevansi untuk Toleransi dan Moderasi di Indonesia

Konsep Wahdatul Adyān dinilai sangat relevan untuk Indonesia yang majemuk. Ia memberi dasar ontologis, epistemologis, dan spiritual dalam memahami keragaman.Toleransi dan moderasi bukan hanya sikap sosial untuk menjaga stabilitas. Lebih dari itu, ia konsekuensi dari kesadaran bahwa manusia terbatas dalam memahami Realitas Tuhan yang tak terbatas.Melalui Wahdatul Adyān, penghormatan pada pemeluk agama lain tidak didasarkan pada relativisme. Tetapi pada pengakuan bahwa setiap tradisi merepresentasikan aspek tertentu dari manifestasi Kebenaran Ilahi sesuai kapasitasnya.













