Potensi Hambatan dalam Kebijakan Intelijen. Apabila Herindra lebih condong kepada kepentingan Jokowi, keputusan-keputusan strategis terkait intelijen bisa menjadi kurang efektif dan berisiko menghambat implementasi kebijakan Prabowo. Di sisi lain, Prabowo mungkin akan kesulitan menemukan ruang yang cukup untuk mengarahkan agenda intelijen sesuai visi dan misinya.
Preseden Politik yang Buruk. Langkah ini menciptakan preseden bahwa presiden yang akan lengser dapat tetap melakukan intervensi signifikan hingga akhir masa jabatan, termasuk dalam pengisian jabatan strategis. Ini bisa memengaruhi stabilitas politik dan menciptakan ketidakpastian di masa depan, terutama dalam masa transisi pemerintahan.
*Penutup*
Aktivitas politik Jokowi menjelang akhir jabatannya memunculkan pertanyaan mendasar terkait etika dan moral politik dalam transisi kekuasaan. Secara normatif, presiden yang masa jabatannya akan berakhir seharusnya berperan sebagai penjaga stabilitas dan memastikan transisi berjalan mulus tanpa intervensi berlebihan. Namun, langkah-langkah Jokowi menunjukkan kecenderungan untuk mempertahankan pengaruh, baik melalui *reshuffle* kabinet maupun pergantian pejabat tinggi seperti kepala BIN.













