Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer Republik Indonesia untuk PBB di New York 2017–2019)
JAKARTA || Bedanews.com – *Pendahuluan*
Dunia saat ini tidak sedang perang besar. Tapi juga tidak sedang damai. Yang terjadi adalah kebuntuan strategis (strategic stalemate). Dan ini lebih berbahaya dari perang terbuka, karena dampaknya tidak kelihatan, datangnya tak terduga, tapi pasti terasa pelan-pelan.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang pecah pada 28 Februari 2026 bukan perang konvensional dengan garis depan yang jelas. Ini perang asimetris. Tapi dampaknya nyata: Selat Hormuz macet total. Satu titik sempit di Timur Tengah itu kini menjadi sumber masalah yang mengganggu ketahanan energi Asia Tenggara.
Di tengah situasi ini, dunia sempat berharap pada BRICS. Kelompok yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan ini kerap disebut sebagai calon penyeimbang kekuatan Barat. Tapi harapan itu pupus. Pertemuan para deputi menteri luar negeri BRICS di New Delhi pada 24 April 2026 hanya menghasilkan Chair’s Summary, bukan pernyataan bersama. BRICS gagal bicara satu suara.













