Oleh: Mayor Jenderal TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer RI untuk PBB (2017–2019)
JAKARTA || Bedanews.com –
*Pendahuluan*
Ketika jabatan kehilangan otoritas, maka kepemimpinan hanya menjadi seremoni
Ada satu paradoks yang terus berulang dalam ekosistem kekuasaan kita: seseorang diangkat menjadi pemimpin, tetapi tidak diberi ruang untuk benar-benar memimpin. Ia memikul tanggung jawab, namun kewenangan strategis berada di tangan pihak lain. Ia menjadi wajah institusi, tetapi bukan penentu arah institusi.
Kita menyebutnya *Panglima.*
Namun, tanpa kewenangan yang utuh, gelar itu perlahan berubah menjadi simbol belaka, indah dipandang, tetapi kehilangan daya. Jabatan akhirnya hanya menjadi atribut, bukan alat untuk menjalankan kepemimpinan. Publik menyaksikan parade kehormatan, sementara keputusan sesungguhnya lahir di ruang yang tidak pernah terlihat.













