Seorang panglima sejati tidak diukur dari jumlah bintang di pundaknya, tetapi dari keberanian mempertahankan integritas ketika kewenangannya dirampas.
Karena itu, pilihannya selalu sederhana.
Perjuangkan kembali otoritas yang menjadi hak jabatan.
Atau tinggalkan jabatan itu dengan kepala tegak.
Jangan berdiri di antara keduanya.
Sebab pemimpin yang hanya memiliki gelar tanpa kuasa bukan lagi pemimpin. Ia hanyalah bayangan dari kekuasaan orang lain.
Dan seorang panglima yang bahkan tidak mampu membuat kata “tidak” memiliki arti, sesungguhnya bukan sedang memimpin.
Ia hanya sedang menggemakan suara yang berasal dari ruang lain. ***
Page 6 of 6













