Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana kebiasaan kita mengonsumsi informasi berubah belakangan ini? Di grup obrolan keluarga atau linimasa media sosial, sebuah kutipan yang diklaim sebagai hadis bisa menyebar ke ribuan ponsel hanya dalam hitungan detik. Cukup bermodal copy-paste dan grafis ciamik, sebuah riwayat langsung dipercayai mentah-mentah.
Kondisi ini bertolak belakang dengan apa yang terjadi di saung-saung bambu pesantren abad ke-17. Kala itu, tradisi sorogan—metode belajar tatap muka secara privat antara murid dan kiai—menjadi benteng pertahanan utama keabsahan sebuah ajaran. Murid membaca kitab di hadapan guru, menguji pemahaman imbuhan tata bahasa, hingga memverifikasi mata rantai transmisi (sanad) kata demi kata.













