Kiai Hasyim Asy’ari dalam karyanya Adabul ‘Alim wal Muta’allim (Jombang: Pustaka Tebuireng, 2014, hlm. 38) menegaskan bahwa ikatan emosional dan pengawasan langsung dalam sorogan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan penyucian jiwa dan pembentukan karakter kejujuran akademik. Tidak ada jalan pintas untuk mendapatkan pengakuan keilmuan.
Secara kritis, lompatan menuju era digital membawa dualisme yang cukup tajam. Di satu sisi, aplikasi mesin pencari dan perpustakaan digital memudahkan siapapun mengakses ribuan kitab primer dalam hitungan detik. Namun di sisi lain, kepraktisan ini sering kali mengikis kedalaman. Martin van Bruinessen dalam Traditionalist Muslims in a Modernizing World (Leiden: ISIM, 2003, hlm. 87) mengamati bahwa digitalisasi informasi keagamaan berisiko melahirkan pemahaman instan yang terputus dari konteks historis dan metodologisnya.













