Orientasi pembelajaran pun mengalami pergeseran makna. Pengamat Timur Tengah asal Jerman, Georg Stauth, dalam Ulama in Transition (Halle: Verlag Werner Dausien, 1993, hlm. 104) mengingatkan bahwa keberadaan otoritas keagamaan tradisional terancam oleh homogenisasi media massa dan platform digital yang cenderung mendangkalkan dialog ilmiah. Otoritas yang dulunya dibangun lewat bertahun-tahun ujian sorogan kini rentan tergeser oleh popularitas jumlah pengikut atau tayangan di media sosial.
Di tingkat akar rumput, tantangan terbesarnya adalah bagaimana merawat kedisiplinan verifikasi ala sorogan di tengah gempuran kecepatan algoritma. Mesin pencari memang bisa menampilkan teks hadis beserta derajat kesahihannya secara cepat, tetapi ia tidak mampu mengajarkan kearifan lokal, empati, serta kedalaman pemahaman kontekstual yang diajarkan seorang guru secara langsung.













