Di situlah tragedi kepemimpinan dimulai.
*Jabatan yang Kehilangan Makna*
Panglima tanpa kewenangan bukan lahir karena lemahnya kapasitas pribadi. Ia merupakan konsekuensi dari desain kekuasaan yang memisahkan tanggung jawab dari otoritas.
Seseorang ditempatkan di puncak organisasi, tetapi urat nadi pengambilan keputusan justru berada di luar kendalinya. Ia boleh berbicara di depan publik, tetapi arah kebijakan telah ditentukan sebelumnya. Ia boleh menandatangani keputusan, tetapi substansi keputusan disusun oleh tangan-tangan lain.
Ini bukan lagi sekadar pembagian tugas.
Ini adalah pengerdilan jabatan.
Bayangkan seorang komandan yang mengenakan seragam lengkap, tetapi senjatanya tidak dapat digunakan. Ia diberi peta operasi, tetapi kompasnya dipegang orang lain. Ketika langkahnya dinilai keliru, seluruh kesalahan dibebankan kepadanya, padahal sejak awal ia tidak pernah benar-benar diberi kesempatan menentukan arah.













