Ironisnya, banyak yang menyadari kondisi itu, tetapi memilih tetap bertahan. Jabatan masih menawarkan kehormatan, fasilitas, dan protokol. Perlahan, kenyamanan menjadi lebih penting daripada kemerdekaan memimpin.
*Ketika Keberanian Digantikan Kenyamanan*
Namun, tidak adil jika seluruh kesalahan hanya dibebankan kepada sistem.
Seorang pemimpin tetap memiliki tanggung jawab moral terhadap dirinya sendiri.
Begitu ia menyadari bahwa kewenangannya telah dipreteli, sesungguhnya hanya ada dua pilihan yang bermartabat: memperjuangkan kembali otoritasnya atau melepaskan jabatannya.
Yang tidak layak adalah menikmati posisi tanpa kuasa.
Diam bukan selalu kebijaksanaan. Dalam banyak keadaan, diam adalah bentuk persetujuan terhadap keadaan yang salah.













