Ketika seorang panglima membiarkan otoritasnya terus dikikis tanpa perlawanan, ia sedang mengirimkan pesan berbahaya kepada seluruh organisasi: bahwa mempertahankan kursi lebih penting daripada mempertahankan integritas.
Budaya itu kemudian menetes ke bawah.
Bawahan belajar bahwa keberanian bukan lagi nilai utama. Yang dihargai adalah kepatuhan kepada pusat kekuasaan, bukan kepada prinsip. Loyalitas bergeser dari kebenaran menuju kenyamanan.
Dan ketika budaya itu mengakar, organisasi kehilangan roh kepemimpinannya.
*Publik yang Ikut Memelihara Ilusi*
Persoalan ini tidak berhenti pada pemimpin.
Publik pun sering kali ikut memelihara ilusi tersebut.
Kita terlalu mudah terpesona oleh atribut jabatan. Kita memberi hormat kepada pangkat, kendaraan dinas, protokol, dan simbol-simbol kehormatan, tetapi jarang bertanya: siapa sebenarnya yang mengambil keputusan?













