Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa puasa yang sempurna bukan hanya menahan perut dari makanan, tetapi juga menahan hati dari kebencian, kesombongan, dan amarah. Puasa adalah proses tazkiyatun nafs, penyucian jiwa dari ego manusia. Hikmah pelajarannya: (1) Puasa menumbuhkan empati terhadap sesama. (2) Puasa melembutkan hati dan mengurangi kesombongan. (3) Empati menjadi fondasi solidaritas sosial.
Pilar Kedua: Zakat, Infak, dan Sedekah Menguatkan Solidaritas Sosial; Jika puasa mengajarkan kita merasakan penderitaan orang lain, maka Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) mengajarkan kita untuk bertindak membantu mereka. Allah SWT berfirman:
Artinya “Kamu tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian dari apa yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92).













