Tantangan terbesar di bidang budaya bukan hilangnya warisan lokal, melainkan memudarnya kebanggaan terhadap identitas sendiri. Karena itu, budaya perlu dihidupkan melalui industri kreatif yang mengadaptasi warisan ke dalam gim, animasi, dan fesyen, dengan perlindungan hak kekayaan intelektual yang kuat. Lembaga pendidikan dapat menjadikan budaya sebagai praktik hidup melalui proyek dokumentasi lokal, sementara masyarakat sipil lewat festival akar rumput menjadi garda depan filtrasi budaya agar globalisasi menjadi dialog dua arah.
Nasionalisme Inklusif, Bukan Chauvinisme
Prof.Lilis memaparkan bahwa menguatkan nasionalisme tanpa terjebak pada chauvinisme membutuhkan pergeseran narasi. Nasionalisme sejati bukan merasa paling unggul, melainkan mencintai bangsa sendiri sambil menghormati kemanusiaan universal.













