Kesehatan mental diukur melalui prevalensi gangguan mental remaja, indeks keterhubungan sosial, serta akses layanan konseling dengan rasio konselor-murid yang memadai. Daya kritis dinilai dari skor literasi membaca dan numerasi, indeks ketahanan terhadap misinformasi, serta partisipasi dalam diskursus publik seperti debat dan karya ilmiah remaja.
Sementara daya saing dilihat dari Future Skills Index, tingkat pengangguran terdidik, rasio wirausaha muda berbasis inovasi, hingga kontribusi generasi di bawah 30 tahun terhadap paten, publikasi ilmiah, dan startup solusi lokal.“Pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya,” demikian mengutip Ki Hajar Dewantara. Jika kedaulatan negara bertumpu pada kualitas “tunas bangsa” yang utuh, maka ukuran keberhasilan program pembinaan harus bergeser dari kuantitas partisipasi menuju indikator mutu yang terukur dan relevan.*** Dihard













