“Indonesia lahir bukan dari keseragaman, tetapi dari kesediaan untuk hidup bersama dalam perbedaan,”ungkapnya.
Pendidikan karakter kebangsaan perlu diarahkan pada nilai empati, toleransi, gotong royong, dan tanggung jawab sosial.Strateginya meliputi penggantian narasi “kami vs mereka” menjadi “kami bersama mereka”, memperbanyak pengalaman langsung seperti pertukaran pelajar antardaerah dan proyek kolaboratif lintas iman, serta menjadikan Pancasila sebagai etika pergaulan global. Dengan gotong royong sebagai model kolaborasi dan keadilan sosial sebagai kritik terhadap kapitalisme predator, generasi muda diharapkan bangga menjadi Indonesia karena menawarkan cara hidup yang merangkul, bukan menyeragamkan.
Indikator Baru Pembinaan Generasi Muda
Keberhasilan program pembinaan generasi muda tak cukup diukur dari angka kelulusan atau serapan kerja. Tiga indikator utama diusulkan: kesehatan mental, daya kritis, dan daya saing.













