Risiko likuiditas juga menghantui karena bank mungkin terdorong menyalurkan kredit secara tergesa-gesa demi memenuhi ekspektasi, bukan berdasarkan analisis risiko yang matang. Hal ini bisa menurunkan kualitas kredit dan meningkatkan kredit macet, sehingga stabilitas perbankan ikut terancam, sebagaimana disoroti sejumlah analis termasuk Tempo.
Kekhawatiran lain muncul dari potensi konflik kepentingan. Himbara tidak hanya menerima dana pemerintah, tetapi juga menyalurkan program bansos dan kebijakan fiskal, sehingga ada risiko keputusan kredit dipengaruhi agenda politik.
Transparansi dan kontrol fiskal juga masih lemah karena publik dan DPR belum memperoleh penjelasan lengkap terkait kriteria, durasi, maupun mekanisme penempatan dana. Tanpa kejelasan, dana berisiko berubah fungsi dari simpanan kas menjadi belanja negara tanpa persetujuan APBN.












