Masalahnya, AS dan Iran punya definisi “penyelesaian” yang berbeda.
*Tiga Alasan Iran Pisahkan Jalur dengan Israel*
*Pertama,* legitimasi ideologi. Sejak Revolusi Islam 1979, Republik Islam Iran tidak mengakui eksistensi Israel sebagai negara. Duduk satu meja dengan Tel Aviv berarti pengakuan diplomatik. Bagi Ayatollah Khamenei, itu adalah pengkhianatan terhadap Revolusi dan akan mengguncang fondasi kekuasaan di dalam negeri.
*Kedua,* strategi sumbu perlawanan. Iran tidak berhadapan langsung dengan Israel. Iran bertarung lewat Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, milisi Syiah di Irak, dan kelompok di Suriah. Model ini disebut proxy warfare. Murah, efektif, dan membuat Iran bisa menyangkal keterlibatan langsung.
Ketika berhadapan dengan AS, Iran memposisikan diri sebagai pemimpin sumbu perlawanan dan pembela Palestina. Posisi ini memberi Iran dukungan moral di dunia Islam tanpa harus bertemu langsung dengan musuh ideologisnya.













