Kedua, kurangnya skeptisisme digital. Banyak pengguna internet belum menyadari pentingnya verifikasi sumber, sehingga hoaks cepat menyebar.
Ketiga, ketimpangan literasi. Survei menunjukkan indeks literasi di wilayah timur dan tengah Indonesia lebih tinggi dibanding Jawa dan Sumatera; ini menunjukkan ketimpangan akses dan pendidikan digital.
Hasil pilot study oleh Thomas dkk. (2021) menunjukkan, pelatihan literasi media sosial secara daring mampu meningkatkan kemampuan peserta mendeteksi informasi palsu, memberikan harapan nyata bahwa intervensi pendidikan bisa efektif untuk skala lebih besar.
Dampak tersebut di atas memunculkan sekurangnya 4 (empat) rekomendasi untuk pemangku kebijakan.
Pertama, perlu mengintegrasikan literasi digital dalam kurikulum nasional secara sistematis; tidak hanya teori, tetapi praktik verifikasi fakta, penggunaan mesin pencari, dan analisis sumber.













