Oleh: Muhammad Rofik Mualimin (Dosen STAI Yogyakarta/Pengasuh PP Latifah Mubarokiyah)
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Indonesia kini tengah menghadapi darurat literasi digital. Pertumbuhan penetrasi internet dan penggunaan media sosial tidak diikuti dengan peningkatan kemampuan kritis masyarakat dalam menyaring informasi. Akibatnya, hoaks menyebar masif dan merusak integritas ruang publik digital.
Menurut survei APJII periode Desember 2023–Januari 2024, penetrasi internet mencapai 79,5 % dari populasi, meningkat dari 78,1 % tahun sebelumnya; jumlah pengguna internet tercatat lebih dari 221 juta jiwa.
Paparan hoaks yang tinggi ini setidaknya berdampak pada 3 (tiga) hal. Pertama,
kerapuhan demokrasi digital. Hoaks politik dapat memecah opini publik, memicu polarisasi, dan menurunkan kualitas proses demokrasi.













