Lintang tidak berhenti di situ. Dengan bantuan seorang ahli keamanan siber sukarelawan, ia melacak pola komunikasi yang digunakan sindikat love scam. Ia mengumpulkan bukti, mempelajari cara kerja voice cloning, deepfake, dan manipulasi psikologis yang digunakan. Ia menulis sebuah artikel panjang berbasis riset, ‘ Empati yang Diperdagangkan: Memahami Love Scam dari Sudut Korban dan Teknologi’ . Artikel itu viral. Diliput oleh media nasional. Lintang diundang ke podcast, ke diskusi daring, ke seminar dan anehnya, ia yang dulu anti sosial, kini bisa bicara dengan tegas. Karena kali ini ia tidak bicara untuk dirinya sendiri. Ia bicara untuk mereka yang belum mampu bersuara. Data yang ia kumpulkan bahkan membantu OJK dan pihak berwenang melacak jaringan yara. Pada akhir tahun 2026, lima anggota sindikat ditangkap termasuk yara sendiri, yang ternyata adalah buronan dengan empat nama palsu berbeda. Ketika polisi bertanya apakah ia ingin bertemu yara, Lintang menjawab, “Tidak. Aku sudah tidak butuh melihatnya. Aku sudah menulis kisahku sendiri, dan dia tidak lagi menjadi karakter utama.”













