Bintang Yang Enggan Padam
Di sebuah panggung kecil di Taman Ismail Marzuki, Lintang berdiri di hadapan 300 orang. Ia bukan lagi perempuan yang duduk sendirian di dapur dengan tumpukan surat utang. Kini, ia adalah penulis buku memoar nasional terlaris berjudul ‘ Tangan yang Kembali Menulis’ . Uang royalti telah melunasi semua utangnya. Lebih dari itu, ia mendirikan sebuah komunitas penulisan bagi korban kekerasan berbasis gender ‘Pena Bangkit’ di mana para penyintas belajar menuangkan luka menjadi kata, dan kata menjadi kekuatan. Kedua anaknya duduk di baris depan, tersenyum bangga. Lintang memegang mikrofon. Suaranya tenang namun penuh kuasa. “Dulu, aku pikir menjadi introvert adalah kelemahan. Aku pikir kebaikanku adalah kebodohan. Aku pikir kehancuranku adalah akhir. Tapi 20 Mei mengajarkan sebaliknya.’ Hari ini, 119 tahun lalu, Boedi Oetomo lahir dari pemuda-pemudi yang tidak menunggu keadaan membaik. Mereka memilih bangkit.













