Memilih Bangkit
Anak-anaknya sudah terlelap. Lintang duduk sendirian di meja dapur, menatap setumpuk surat peringatan dari bank dan koperasi daring. Total utangnya telah membengkak menjadi Rp 340 juta dengan bunga. Ia hampir kehilangan rumah. Di sudut meja, terselip sebuah buku tua bersampul cokelat. Buku itu adalah novel pertama yang ia tulis, sepuluh tahun silam. Judulnya: ‘Bintang yang Enggan Padam’. Buku itu bercerita tentang seorang perempuan yang bangkit dari kehancuran perang batinnya sendiri.
Lintang membukanya perlahan. Matanya menangkap paragraf pertama yang dulu ia tulis dengan penuh keyakinan. Dunia boleh meremukkanmu berkali-kali. Tapi selama kau masih bisa memilih untuk bangkit, kau belum benar-benar kalah. Air matanya jatuh membasahi halaman itu. Lihat aku sekarang’ , pikirnya getir. ‘ Aku menulis tentang bangkit, tapi aku sendiri tak bisa melakukannya.’ Namun, sebuah pikiran lain menyusup. ‘ Jika aku bisa menulis kata-kata itu dulu, berarti aku masih bisa menulisnya lagi sekarang. Aku masih bisa memilih.’













