Yara bukan sekadar penipu. Ia adalah bagian dari sindikat love scam terorganisir yang menggunakan teknologi AI untuk menciptakan karakter fiktif yang sempurna. Suara hangat yang kadang ia kirim melalui voice note adalah hasil voice cloning. Foto-foto yang dikirim adalah curian yang diedit dengan deepfake. Setiap kata-katanya disusun oleh skrip psikologis yang dirancang untuk menghancurkan mental korban.
Mereka adalah jelmaan iblis zaman ini, tidak bertanduk, tidak menyeramkan, tetapi tampak seperti malaikat penolong. Mereka merusak mental, memperdagangkan empati perempuan, mengubah harapan menjadi jerat utang dan rasa malu. Dan Lintang adalah satu dari ribuan korban yang takut bersuara. Bukan hanya karena malu, tetapi karena dunia seringkali lebih kejam pada korban daripada pada pelaku. ‘Penulis kok kena tipu? Katanya cerdas, kok bisa segitunya? ‘Ini sih kebanyakan baper.’ Begitulah. Lintang memilih diam. Ia menarik diri semakin dalam, menghapus seluruh akun media sosialnya, dan berhenti menulis sama sekali.













