Jerat yang Meremukkan
Hubungan itu berlanjut selama lima bulan. Tanpa pernah bertemu fisik, Yara berhasil membangun ilusi cinta yang begitu kuat. Lalu, perlahan, permintaan itu datang. Pertama, pinjaman kecil untuk proyek bisnis yang gagal. Lalu, untuk biaya pengobatan keluarganya. Hingga akhirnya, permintaan terbesar. ‘Aku butuh modal untuk menyelesaikan startup. Lintang menggadaikan laptop kesayangannya. Ia mengambil pinjaman daring. Ia menjual beberapa barang barang yang dulu tak pernah rela ia lepaskan. Total lebih dari Rp 230 juta mengalir ke rekening yang tak pernah ia periksa kepemilikannya. Hingga hari itu tiba. Seluruh kontak yara hilang. Nomor telepon mati. Akun media sosial lenyap. Lintang menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Lintang…’ bisiknya lirih, membaca namanya sendiri seolah bertanya siapa dirinya sekarang. Satu-satunya yang tersisa hanyalah pesan terakhir dari yara , dikirim sebelum menghilang, ‘ Kamu itu terlalu baik, Lin. Terlalu polos. Dunia ini enggak selembut kamu. Maaf ya, ini memang tugas aku. Semoga kamu belajar.” Malam itu, Lintang tidak menangis. Ia hanya duduk di depan meja tulisnya, menatap laptop yang sudah tidak ada, menatap tempat di mana ia biasa menuangkan kata-kata. Sekarang, ruang itu kosong. Bukan hanya uang yang hilang. Bukan hanya barang yang terjual. Tapi juga kepercayaan pada dirinya sendiri. Sebagai seorang penulis yang seharusnya kritis, ia merasa telah gagal membaca naskah hidupnya sendiri.













