Kesepian itulah yang menjadi celah
Suatu malam, sebuah pesan masuk ke akun media sosialnya. Seseorang bernama Yara mengaku sebagai pembaca setia, mengagumi karya-karyanya, memahami setiap emosi yang ia tuangkan dalam novel. Kata-katanya seperti pelukan yang sudah lama tak Lintang rasakan. Mereka bertukar pesan setiap hari. Yara menjadi oase di tengah sunyi. Ia tahu kapan harus bertanya, kapan harus diam, kapan harus memuji. Lintang yang selama ini menghindari orang, alih alih membuka diri.
Penelitian dari Universitas Cardiff menyebut fenomena ini sebagai therapeutic but toxic spaces sebuah ruang relasi yang terasa menyembuhkan, tapi sesungguhnya dirancang untuk menghancurkan. Para pelaku memanipulasi keinginan dan aspirasi korban, menjadikan harapan sebagai umpan dan empati sebagai jerat. Dan Lintang adalah mangsa yang sempurna seorang yang terluka, kesepian, dan penuh kebaikan.













