Nah, di sinilah saya melihat kepentingan terselubung AS terhadap Indonesia. Kalau Selat Hormuz macet, jalur alternatif utamanya ya Selat Malaka. Dan siapa yang memegang pintu masuk dan keluar Selat Malaka? Ya kita, Indonesia.
Maka ketika AS minta akses ruang udara secara penuh lewat kerja sama militer kita, saya curiga ini bukan sekadar urusan peningkatan SDM TNI. Ini urusan logistik perang. Maaf, saya harus bilang terus terang: memberi izin terbang tanpa persetujuan per kasus untuk pesawat militer AS di saat panas begini, itu tindakan yang sangat berisiko.
Saya tidak bilang kita tidak boleh kerja sama. Tapi jangan sampai karpet merah yang kita gelar untuk latihan bersama, berubah jadi jalan tol bagi pesawat tempur asing yang mau terlibat konflik yang bukan urusan kita.













