*Bukan Sekadar Menjaga Seremoni*
Menurut Susilo, evaluasi terhadap kehidupan kepramukaan tidak seharusnya diarahkan untuk mencari pihak yang salah. Sebaliknya, refleksi tersebut perlu menjadi perhatian bersama para pembina, pendidik, orang tua, pengelola Gerakan Pramuka, alumni maupun pemangku kebijakan.
Ia mengingatkan, agar semangat mempertahankan tradisi tidak justru membuat nilai pendidikan kepramukaan kehilangan relevansinya.
“Jangan sampai kita sibuk menjaga seragam dan seremoninya, tetapi kehilangan jiwanya. Jangan sampai kita mempertahankan ritualnya, tetapi melupakan nilai pendidikannya,” ungkapnya.
Hari Pramuka, lanjut Susilo, seharusnya menjadi momentum untuk melihat kembali apakah nilai yang selama ini diajarkan benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.













