Secara historis, 14 Agustus ditetapkan sebagai Hari Pramuka karena pada tanggal tersebut pada 1961 Gerakan Pramuka diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat dan Panji Gerakan Pramuka dianugerahkan.
Karena itu, bagi Susilo, peringatan Hari Pramuka ke-65 pada 2026 dapat dimaknai bukan hanya sebagai perayaan sejarah, melainkan sebagai kesempatan untuk menyalakan kembali semangat pendidikan dan pengabdian.
“Jika api itu masih ada, mari kita besarkan. Jika mulai redup, mari kita terangkan. Dan jika hampir padam, mari kita gelorakan,” demikian pesannya.
Pada akhirnya, keberadaan Pramuka akan tetap relevan apabila nilai-nilai yang diajarkan mampu menjawab tantangan zaman dan diwujudkan dalam kehidupan nyata.
“Bangsa yang besar membutuhkan generasi yang cerdas sekaligus berkarakter, mandiri, peduli, berani dan bertanggung jawab. Di sanalah, menurut Susilo, api kepramukaan menemukan kembali maknanya sebagai bagian dari proses membangun kader dan calon pemimpin bangsa,” pungkas Jenderal Kelahiran Kota Wali Demak ini, Kamis (13/8) di Jakarta. (Red).













