Persoalan paling mendasar yang dihadapi pers saat ini adalah ekonomi media. Model bisnis media konvensional runtuh lebih cepat daripada kemampuan adaptasi. Belanja iklan nasional berpindah ke platform digital global yang tidak memproduksi jurnalisme, tetapi memonetisasi distribusinya. Akibatnya, banyak perusahaan pers kehilangan sumber pendapatan utama, melakukan efisiensi, bahkan menutup operasional. Krisis ini mengancam langsung kualitas dan keberlanjutan jurnalisme.
Data Dewan Pers per Januari 2026 mencatat 1.198 media terverifikasi, terdiri dari media cetak, siber, televisi, dan radio. Angka ini belum termasuk media yang belum terverifikasi, yang diyakini jumlahnya berkali lipat lebih banyak. Besarnya ekosistem pers nasional ini ironisnya tidak diiringi sistem perlindungan dan kebijakan ekonomi media yang memadai, sehingga banyak media hidup dalam kondisi rentan dan bergantung pada pasar yang semakin tidak adil.












