Oleh: Abdul Rohman Sukardi
JAKARTA || Bedanews.com – Sebentar lagi Hari Pahlawan: 10 November 2025. Media-media memberitakan ada 40 usulan Pahlawan Nasional. Presiden Ke-2 RI —Presiden Soeharto— ada di dalamnya.
Usulan itu sudah sejak tahun 2010. Ditolak sejumlah pihak oleh sejumlah alasan. Bukan soal kelayakan. Melainkan cerminan gemuruh dialektika bangsa untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Dalam menatap masa lalu maupun masa depannya.
Mari kita cermati soal itu dari berbagai perspektif.
Setiap bangsa memiliki masa lalu yang kadang sulit dirangkul sepenuhnya. Masa di mana kekuasaan berbaur dengan kekerasan, ketakutan, dan pengorbanan. Namun, sejarah bukan sekadar kumpulan catatan hitam-putih. Sejarah adalah ruang pemahaman.
Dalam konteks Indonesia, nama Presiden Soeharto menjadi ujian besar kedewasaan bangsa dalam menghadapi sejarahnya sendiri. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah ia layak menjadi pahlawan nasional. Tetapi apakah bangsa ini siap berdamai dengan sosok yang pernah menyelamatkan, sekaligus (dianggap) menakutkan sejumlah pihak itu.













