Di ranah sosial dan politik, keterlibatan perempuan juga dinilai membawa perspektif yang lebih inklusif, humanis dan berkeadilan.
Namun, kemajuan tersebut belum otomatis menghapus berbagai hambatan. Ketimpangan gender, konstruksi budaya dan belum meratanya akses terhadap kesempatan masih menjadi persoalan yang harus diselesaikan.
Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Dr. Rini Sudarmanti, bahkan mempertanyakan kembali makna โruang publik yang merdekaโ bagi perempuan Indonesia. Ia menyoroti paradoks antara tingginya jumlah perempuan di lingkungan pendidikan dengan minimnya keterwakilan mereka ketika memasuki arena publik dan posisi strategis.
โJika di kampus, jumlah perempuan banyak sekali, namun ketika masuk ke ranah publik, jumlah itu kontan menghilang entah ke mana,โ ujar Rini.













