Jakarta – bedanews.com – Sekitar 35 persen orang di dunia membaca lebih banyak karena adanya Covid-19. Barangkali ini erat kaitannya dengan aktivitas masyarakat yang serba terbatas di masa pandemi Covid-19, lalu menjadikan membaca sebagai aktivitas pilihan.
Hal ini senada dengan yang dilaporkan oleh Perpustakaan Nasional pada Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi X DPR, tanggal 16 April 2020, bahwa selama masa pandemi Covid-19 pengguna perpustakaan digital IPusnas per minggu naik 130 persen.
Akan tetapi, persoalan banyak dan tidaknya membaca belum begitu bermakna jika literasi juga belum dipahami secara benar. Literasi ini harus dibangun melalui proses belajar yang bertujuan untuk melahirkan kesadaran kritis individual atau kelompok yang bersifat otonom, memanusiakan dan memerdekakan.













