Karena ketika komando rusak dari puncak, yang mati di lapangan adalah anak buah kita. Bukan politisi di balik meja kayu mahoni. Bukan para staf di ruang ber-AC. Tetapi para prajurit muda yang hanya menjalankan sumpah setia kepada bangsa dan kepada pemimpinnya.
Jika Amerika Serikat, dengan doktrin militer terbaik dan sistem check and balance yang paling matang di dunia, bisa mengalami krisis ini, maka negara mana pun bisa mengalaminya.
*Penutup*
Saya menutup opini ini dengan kegelisahan seorang pensiunan yang pernah melihat sendiri bagaimana keretakan rantai komando merenggut nyawa. Apa yang terjadi di Gedung Putih bukanlah anomali taktis. Ini adalah kegagalan sistemik: seorang panglima yang justru menjadi force divider, pemecah kekuatan di saat negaranya membutuhkan persatuan komando.













