Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer Republik Indonesia untuk PBB 2017–2019)
JAKARTA || Bedanews.com – Dalam doktrin militer mana pun di dunia, panglima tertinggi adalah jantung strategi perang. Beliau adalah simpul terakhir rantai komando, tempat keputusan final diambil. Namun, laporan yang beredar pada pertengahan April 2026 seputar konflik Iran vs Amerika Serikat membalik logika tersebut: Presiden Donald Trump justru “dikucilkan” dari Situation Room Gedung Putih oleh staf militernya sendiri.
Bukan karena kudeta. Bukan karena makar. Tapi karena para jenderalnya menilai bahwa kehadirannya justru mengganggu operasi.
Sebagai seorang yang pernah menjalani masa dinas di lapangan dan juga di meja diplomasi PBB, saya tidak bisa tidak prihatin. Ini bukan soal perbedaan pendapat taktis. Ini adalah krisis kepercayaan yang sangat dalam antara unsur sipil dan militer di tengah perang terbuka.













