Analisis Gendernya, lanjut dia, mengutip Teori Laura Mulvey (1975), Benny menyebutkan, film patriarkal menempatkan perempuan sebagai objek pandangan (male gaze*l). Disisi lain, Film horor/religius Indonesia kerap mengulang stereotip: perempuan histeris, laki-laki rasional. Contoh
Dalam “Perempuan Bergaun Merah” (2022), tokoh perempuan yang melakukan ritual bid’ah berakhir tragis—menegaskan norma gender konservatif.
“Kesimpulan, pertama Film Indonesia memakai tema bid’ah dan gender sebagai alat komunikasi yang efektif namun sering simplistis. Kedua, representasi bid’ah cenderung sensasional, sementara komunikasi gender masih terjebak dalam dikotomi tradisional. Ketiga, perlu pendekatan kritis dalam mengonsumsi film untuk memilah antara hiburan dan pesan ideologis,” paparnya. (Red).












