Lalu, kegelapan.
Hanya ada suara desis uap dan rintihan pelan yang perlahan tenggelam dalam keheningan yang mencekam. Bau besi terbakar menyengat hidung, namun ada bau lain yang lebih mengerikan, bau amis darah yang merembes di sela-sela lantai bordes.
Antara Puing dan Doa
Nirmala terbangun dengan rasa sakit yang menjalar dari kaki hingga kepalanya. Cahaya senter dari kejauhan mulai menyapu reruntuhan. Di sampingnya, ia melihat sosok yang dikenal. Bu Ratna tergeletak tak bergerak, tangannya masih menggenggam erat plastik belanjaan berisi sabun. Darah mengalir dari pelipis perempuan tua itu, membasahi kain yang dicuci dengan susah payah seharian.
“Bu… Bu Ratna…” bisik Nirmala parau. Tak ada jawaban.
Di sekelilingnya, tragedi itu tersaji dengan gamblang, bukan sekadar kecelakaan, namun telah berubah menjadi pemandangan tentang bagaimana kemiskinan dan risiko kerja bertemu di satu titik mati. Tas-tas kerja yang koyak, sepatu-sepatu yang kehilangan pasangannya, dan Id card pabrik yang tercecer di antara serpihan baja.













