Tragedi di Tikungan Maut
Malam itu, “kemarin” yang akan diingat sebagai sejarah berdarah, hujan turun dengan rintik yang tajam seperti jarum. Kereta melaju dengan kecepatan yang tidak biasa, seolah-olah mesin tua itu juga ingin segera beristirahat. Nirmala memegang erat tas kainnya yang berisi seragam cadangan dan sebuah roti kecil untuk adiknya di rumah.
Pukul 18.45.
Di sebuah tikungan tajam yang minim penerangan, maut datang tanpa permisi. Suara rem yang menjerit membelah keheningan malam, diikuti oleh dentuman logam yang saling menghantam dengan kekuatan ribuan ton. Dunia Nirmala jungkir balik. Gravitasi seolah hilang sesaat sebelum tubuhnya dilemparkan keras ke arah langit-langit gerbong. Suara kaca pecah pun terdengar seperti musik kematian yang sumbang.













