Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer Republik Indonesia untuk PBB 2017–2019)
JAKARTA || Bedanews.com – *Pendahuluan*
Saya menyaksikan langsung bagaimana konflik dunia lahir. Bukan dari ledakan pertama, tetapi dari insiden kecil yang dibiarkan membusuk hingga meledak.
Tahun 2018, ketika saya masih duduk sebagai Penasihat Militer RI untuk PBB di New York, Dewan Keamanan hampir kehabisan akal menghadapi eskalasi di Selat Bab elMandeb. Akar masalahnya sama dengan yang kini terjadi di Selat Hormuz: ambiguitas definisi gencatan senjata. Satu pihak mengklaim gencatan senjata “berlaku”, pihak lain mengklaim “telah dilanggar” dan tidak ada mekanisme pemantauan netral di lapangan. Hasilnya? Eskalasi bertahap yang memakan ratusan korban sipil sebelum akhirnya mereda bukan karena perdamaian, tetapi karena kelelahan.













