Sejarah tidak pernah persis berulang. Namun di Selat Hormuz hari ini, irama yang sama mulai terdengar lagi. Kali ini, taruhannya jauh lebih besar.
Apa yang terjadi di Selat Hormuz pekanpekan terakhir bukan lagi sekadar “ketegangan”. Sebagai seorang militer, saya menyebut statusnya: darurat merah. Mesin perang AS dan Iran sedang memanas ke tingkat kritis. Dan gencatan senjata yang diklaim Presiden Trump “masih berlaku” berisiko menjadi fatamorgana diplomatik.
*Kontradiksi Berbahaya: Menembak Sambil Berdiplomasi*
Dalam dua minggu terakhir, laporan dari perairan Hormuz menunjukkan pola klasik eskalasi: Iran menuduh AS menyerang kapal tanker minyaknya serta fasilitas di darat. AS membantah dan menyatakan bahwa kapal perusaknya melintas di perairan internasional ketika Iran meluncurkan rudal dan drone secara “tidak beralasan”. Kedua pihak mengklaim bertindak dalam pembelaan diri.













