Stasiun adalah teater kerumunan. Di peron, Nirmala bertemu dengan Ratna, seorang buruh cuci yang setiap hari menempuh perjalanan dua jam menuju kawasan elit kota untuk mencuci gunungan pakaian kotor. Mereka adalah dua dari sekian banyak “Pejuang Kehidupan” yang menggantungkan nasib pada rangkaian besi tua bernama kereta api komuter.
“Kau dengar, Nir? Besok teman-teman di serikat mau turun ke jalan. Mereka bilang sistem keamanan transportasi buruh juga harus masuk tuntutan,” ujar Ratna sambil mengatur napas di dalam gerbong yang mulai sesak.
Nirmala bersandar pada dinding gerbong ketiga, gerbong yang entah mengapa selalu menjadi favorit para perempuan pekerja. Di sini, aroma deterjen murah bercampur dengan bau minyak kayu putih dan keringat yang menguap. Gerbong yang menjadi ruang suaka karena para perempuan tersebut bebas melepaskan topeng ketegaran mereka. Ada yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka karena kelelahan luar biasa, ada yang menghitung sisa uang di dompet dengan dahi berkerut, dan ada yang sekadar menatap kosong ke luar jendela, melihat deretan kumuh yang berkelebat.













