Oleh : Lilis Sulastri
Kota ini tidak pernah benar-benar tidur, hanya ada napas pendek di antara shift kerja. Bagi Nirmala, alarm pukul 04.00 pagi adalah lonceng pertempuran yang tidak bisa ditawar. Di sebuah kontrakan sempit di pinggiran kota, sambil menyesap kopi hitam yang sudah dingin, dan memandang bayangannya di cermin retak. Nirmala adalah satu dari ribuan perempuan yang menghidupi roda ekonomi bangsa, seorang buruh garmen dengan jemari yang kapalan namun presisi dalam menjahit kerah kemeja ekspor.
“Hati-hati, Nir. Pulang cepat hari ini,” suara ibunya parau dari balik kelambu. Nirmala hanya mengangguk, mengencangkan tali sepatunya yang sudah aus. Ia tidak tahu bahwa “pulang” akan menjadi kata yang begitu mahal untuk ditebus.Bulan ini adalah bulan yang krusial. Beberapa hari lagi adalah 1 Mei, Hari Buruh Internasional. Di pabrik, desas-desus tentang aksi besar-besaran mulai merebak. Namun bagi Nirmala, Hari Buruh bukan sekadar orasi di atas mobil komando, namun tentang sebuah harapan bagaimana tunjangan kesehatan yang lebih baik dan upah lembur tidak dipotong secara sepihak.
Gerbong Ketiga dan Ruang Suaka yang Rapuh













