*Pertama,* BRICS bukan aliansi militer. Bukan pakta pertahanan. Ia forum politik-ekonomi tanpa mekanisme pengambilan keputusan yang mengikat. Tidak ada pasukan bersama. Tidak ada hak veto seperti di DK PBB. Tidak ada konsekuensi jika anggota tidak sepakat. Dalam krisis, ketiadaan mekanisme ini adalah kelemahan fatal.
*Kedua,* kepentingan nasional para anggota BRICS sangat berbeda. Rusia dan China punya agenda sendiri di Timur Tengah. India, sebagai tuan rumah, bermain hati-hati karena hubungannya dengan AS. Brasil dan Afrika Selatan, meskipun simpatik pada Palestina, tidak mau memutus jembatan diplomatik dengan negara-negara Barat. Dalam dunia nyata, perbedaan seperti ini tidak bisa dipaksakan menjadi satu suara.
*Ketiga,* tidak ada krisis bersama yang langsung mengancam mereka. Selat Hormuz macet? Mereka masih punya cadangan. Masih punya jalur alternatif. Masih punya kekuatan tawar yang besar. Maka tidak heran mereka tidak tergesa-gesa.













