Setelah merenung lama di kamar mandi (satu-satunya ruang di rumah di mana aku bisa menangis tanpa dilihat siapa pun), aku menyadari sesuatu. Dua luka ku terjebak sindikat empati palsu dan menanggung beban ganda di rumah berasal dari akar yang sama. Adalah masyarakat kita mengajarkan perempuan untuk menjadi tak terbatas dalam memberi, tapi tidak pernah mengajarkan perempuan untuk melindungi dirinya sendiri. Bahwa memberi uang hingga habis? Dia baik hati. Memberi waktu dan tenaga hingga lupa istirahat? Dia ibu hebat. Memberi empati tanpa batas hingga dimanfaatkan sindikat? Dia korban yang naif.
Tidak ada yang berkata: berhenti. Batasi. Lindungi dirimu dulu.
Kartini mengajarkan perempuan untuk bersuara. Tapi kita lupa bahwa bersuara juga berarti berkata TIDAK. Tidak pada sindikat yang memanfaatkan kebaikan kita. Tidak pada suami yang menganggap pekerjaan rumah adalah tugas istri. Tidak pada budaya yang membuat kita tersenyum di foto padahal hati sedang terluka. Aku tidak menulis artikel ini untuk menyalahkan Kartini. Aku menulis ini karena aku lelah melihat perempuan-perempuan hebat di sekitarku tersenyum sambil berdarah.













