Oleh : Lilis Sulastri
Prolog, Ketika 21 April Menjadi Hari Paling Sepi di Dadaku
-Setiap tahun, kita mengenang nama Kartini. Kita membaca surat-suratnya dengan suara bergetar. Kita memakai kebaya terbaik, mengunggah foto dengan filter estetik, dan menulis caption ‘Terinspirasi dari Kartini, perempuan harus bersatu, kuat, dan berdaya.’ Tapi tidak ada yang pernah bertanya, bagaimana jika semangat Kartini malah menjadi bumerang bagi perempuan itu sendiri?
Aku dulu percaya bahwa menjadi perempuan baik berarti mendengar, merasakan, dan membantu tanpa batas. Aku bangga disebut “Kartini kecil” karena selalu sigap menolong siapa pun yang kesusahan. Lalu aku jatuh. Bukan jatuh cinta. Tapi jatuh ke dalam lubang sindikat besar manipulasi berkedok empati. Dan setelah aku bangkit dari lubang itu, aku pulang ke rumah. Di sana, pertempuran sesungguhnya menunggu. Bukan melawan sindikat kejahatan, tapi melawan budaya yang menganggap pekerjaan domestik sebagai “tugas alamiah perempuan’.













