Inilah kisahku. Kisah tentang senyum luka yang kupakai setiap hari. Di depan kamera. Di depan keluarga. Di depan dunia yang terus memujiku sebagai “perempuan hebat” padahal di dalam hatiku, ada luka yang tak kunjung sembuh.
Bagian Satu: Empati yang Diperkosa . Ketika Kartini Disalahgunakan oleh Sindikat Kejahatan
Cerita Sedih yang Mengetuk Pintu Hati
Semuanya dimulai dari pesan singkat. Seorang “teman” di media sosial sebut saja namanya Maya, menangis di telepon. Suaranya parau, seperti orang yang benar-benar putus asa. “Kak, adikku kritis. Rumah sakit minta uang muka tiga puluh juta. Aku sudah pinjam ke mana-mana. Cuma kamu yang aku punya. Kamu kan orangnya paling baik, paling berempati.” Hatiku berbunga. Rasanya seperti dipuji Kartini sendiri. Aku seorang perempuan yang peduli. Aku tidak tega melihat orang susah. Bukankah itu ajaran Kartini? Perempuan harus saling mengangkat? Aku transfer. Lima juta pertama. Lalu sepuluh juta. Lalu dua puluh. Setiap kali aku ragu, Maya punya cerita baru, tetangga yang diusir, anak yatim yang kehilangan biaya sekolah, ibu tua yang tak punya makan. Setiap cerita dibumbui air mata virtual dan kata-kata manis, ‘Kamu satu-satunya malaikatku. Tanpamu, aku tidak tahu harus bagaimana.’













