Di Balik Maya, Ada Sindikat Besar
Aku tidak tahu bahwa di balik satu akun Maya, ada sindikat terstruktur. Mereka punya psikolog sendiri yang merancang narasi. Mereka punya tim kreator konten yang membuat cerita sedih yang perfectly crafted untuk menembus pertahanan emosional perempuan. Menyebutnya scam saja terlalu ringan. Ini empathy harvesting’ panen empati. Mereka tahu persis titik lemah Perempuan, rasa ingin menyelamatkan, rasa tidak tega, rasa bersalah jika tidak membantu. Dan mereka tahu bahwa perempuan Indonesia, yang dari kecil dididik untuk menjadi lembut, penyayang, tidak egois, adalah target paling empuk.
Ancaman dan Rasa Bersalah
Ketika aku mulai sadar dan mencoba berhenti transfer, wajah Maya berubah. Suaranya tidak lagi lembut. “Kamu tega? Adikku akan mati dan itu salahmu. Kamu perempuan tidak punya hati. Semua orang akan tahu betapa jahatnya kamu.” Aku lumpuh. Ancaman itu memanfaatkan satu hal, adalah rasa bersalahku sebagai perempuan yang katanya harus sempurna dalam menolong. Aku tidak berani cerita ke siapa pun. Malu. Aku yang kuliah tinggi, yang bekerja di kantor bagus, yang setiap Kartini naik panggung membaca surat-surat Kartini, ternyata jatuh ke dalam scam berkedok kebaikan. Total kerugianku mencapai tujuh puluh tiga juta rupiah. Tapi bukan itu yang paling menyakitkan. Yang paling melukai adalah ketika aku sadar, empatiku telah diperkosa’. Sifat yang paling aku banggakan sebagai perempuan, justru menjadi pintu masuk bagi kejahatan.













