• DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • Contact Us
Minggu, November 8, 2026
  • Login
Bedanews
Advertisement
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
Bedanews
No Result
View All Result

Home » Kartini dan Senyum Luka: Antara Kebaya dan Empati yang Diperkosa

Kartini dan Senyum Luka: Antara Kebaya dan Empati yang Diperkosa

Hargib by Hargib
22 April 2026
in Edukasi, Profil
0
RA.Kartini/pinterest

RA.Kartini/pinterest

0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Mengapa Perempuan Paling Rapuh?

Bukan karena kami bodoh. Tapi karena dari kecil kami dididik untuk mendahulukan perasaan orang lain’. Kartini sendiri adalah simbol empati yang indah. Tapi tidak ada peringatan dalam buku sejarah bahwa empati tanpa batas akan membuat kita buta terhadap manipulasi. Seandainya Kartini hidup di zaman media sosial, aku yakin ia akan menulis surat lain. Bukan hanya soal hak pendidikan, tapi juga hak untuk tidak dieksploitasi atas nama kebaikan.

Bagian Dua: Senyum Luka di Rumah , Antara Kebaya dan Beban Ganda

Perempuan Hebat di Depan Kamera

BeritaTerkait

Ekoteologi dalam Inovasi, Pendidikan, dan Pengabdian

6 November 2026

DPRD Jabar Berharap Seluruh Venue Pertandingan Proprov Dipersiapkan Secara Optimal

5 November 2026

Setelah aku berhasil keluar dari lubang sindikat itu dengan bantuan konselor dan laporan polisi yang melelahkan, aku pikir hidupku akan lebih ringan.

Ternyata tidak.

Tanggal 21 April tahun berikutnya. Instagramku bersih. Aku memakai kebaya modern warna krem dengan bordir bunga. Makeup tipis tapi menawan. Rambut disanggul rapi. Di kantor, aku berdiri di depan podium membacakan pidato Kartini dengan suara bergetar penuh semangat. Rekan kerjaku memotret. Aku tersenyum. ‘Wah, ibu-ibu hebat!’ kata mereka. ‘Kartini masa kini! Perempuan tangguh!’ Lima puluh like dalam sepuluh menit. Komentar-komentar, ‘Inspiring banget!’ , Emansipasi sejati!’ Aku membalasnya dengan stiker senyum. Padahal di balik layar ponsel, mataku sembab. Aku hanya tidur tiga jam semalam. Karena setelah foto kebaya itu diambil, aku tetap harus pulang, dan di sanalah pertempuran sesungguhnya dimulai.

Page 4 of 12
Prev1...345...12Next
Tags: Antara KebayaEmpati yang DiperkosaKartiniSenyum Luka
Previous Post

Kartini, Merawat Kewarasan di Tengah Manipulasi Dunia

Next Post

Go Internasional, Jurnal Religious Fakultas Ushuluddin UIN SGD Terindeks Scopus

Related Posts

Edukasi

Ekoteologi dalam Inovasi, Pendidikan, dan Pengabdian

6 November 2026
Edukasi

DPRD Jabar Berharap Seluruh Venue Pertandingan Proprov Dipersiapkan Secara Optimal

5 November 2026
Edukasi

Disnaker Kab. Bandung Tetapkan Henky Herwindo sebagai Ketua Forum HRD Baru

3 November 2026
Edukasi

Inovasi Pendidikan 2026: Merajut Teknologi, Kolaborasi, dan Karakter Menuju Masa Depan

2 November 2026
Almarhum H. Fathan Subchi. (Foto Doc. BPK).
Profil

Fathan Subchi, Pengabdian yang Berpulang, Kebaikan yang Tetap Dikenang

1 November 2026
Edukasi

KETIKA ILMU MENYATUKAN: Kampus Menghadirkan Solusi bagi Negeri

30 Oktober 2026
Next Post

Go Internasional, Jurnal Religious Fakultas Ushuluddin UIN SGD Terindeks Scopus

JDIH DPRD Kota Cimahi

LPKL

BEDA Itu pilihan

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA

MFC - Bedanews.com © 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result

MFC - Bedanews.com © 2021