Mengapa Perempuan Paling Rapuh?
Bukan karena kami bodoh. Tapi karena dari kecil kami dididik untuk mendahulukan perasaan orang lain’. Kartini sendiri adalah simbol empati yang indah. Tapi tidak ada peringatan dalam buku sejarah bahwa empati tanpa batas akan membuat kita buta terhadap manipulasi. Seandainya Kartini hidup di zaman media sosial, aku yakin ia akan menulis surat lain. Bukan hanya soal hak pendidikan, tapi juga hak untuk tidak dieksploitasi atas nama kebaikan.
Bagian Dua: Senyum Luka di Rumah , Antara Kebaya dan Beban Ganda
Perempuan Hebat di Depan Kamera
Setelah aku berhasil keluar dari lubang sindikat itu dengan bantuan konselor dan laporan polisi yang melelahkan, aku pikir hidupku akan lebih ringan.
Ternyata tidak.
Tanggal 21 April tahun berikutnya. Instagramku bersih. Aku memakai kebaya modern warna krem dengan bordir bunga. Makeup tipis tapi menawan. Rambut disanggul rapi. Di kantor, aku berdiri di depan podium membacakan pidato Kartini dengan suara bergetar penuh semangat. Rekan kerjaku memotret. Aku tersenyum. ‘Wah, ibu-ibu hebat!’ kata mereka. ‘Kartini masa kini! Perempuan tangguh!’ Lima puluh like dalam sepuluh menit. Komentar-komentar, ‘Inspiring banget!’ , Emansipasi sejati!’ Aku membalasnya dengan stiker senyum. Padahal di balik layar ponsel, mataku sembab. Aku hanya tidur tiga jam semalam. Karena setelah foto kebaya itu diambil, aku tetap harus pulang, dan di sanalah pertempuran sesungguhnya dimulai.













